Gas langka dan mahal

Terpaksa Beralih ke Kayu Bakar

Kompas.com - 20/02/2012, 07:58 WIB

BULUKUMBA, KOMPAS.com - Sudah dua pekan harga gas elpiji khususnya tabung 3 kilogram mengalami kenaikan antara Rp 16.000 hingga Rp 18.000 di tingkat pengecer. Hal ini membuat sebagian warga di Kecamatan Ujungloe terpaksa beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak sehari-hari.

Nina, misalnya. Salah satu warga Kecamatan Ujungloe ini mengaku tidak punya pilihan lain semenjak harga gas elpiji naik. Suaminya yang hanya berprofesi sebagai buruh lepas, tidak mampu lagi untuk membeli gas elpiji.

Untuk mendapatkan kayu bakar, Nina bersama suaminya mencari kayu di dalam kebun, dan mengumpulkan ranting-ranting pohon yang sudah berserakan di tanah. "Kayu bakar salah satu cara untuk menyambung hidup, dari pada harus membeli gas elpiji yang harganya sudah naik. Apalagi, orang seperti kita ini yang berpenghasilan tidak tetap, untuk makan saja sudah susah," jelas Nina, Senin (20/2/2012).

Nina berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan rakyat kecil dengan menekan sejumlah harga. Apalagi kata Nina, harga minyak tanah juga sudah semakin mahal.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah pengecer di Bulukumba, Sulawesi Selatan terpaksa menaikkan harga gas elpiji 3 kilogram dari Rp 15.000 menjadi Rp 16.000, bahkan beberapa pengecer menaikkan harga elpiji mereka hingga Rp 18.000. Kenaikan harga ditingkat pengecer itu disebabkan para pengecer mengalami kesulitan dalam mendapatkan pasokan gas dari agen. Setidaknya, hal itu diakui oleh Nur, salah satu pengecer di Bulukumba.

Nur mengaku harga gas elpiji 3 kilogram diprediksikan tidak akan turun lagi, sehingga dia mematok harga Rp 16.000 per tabung. "Kita ambil dari agen Rp 14.000 dari harga normal Rp 13. 000," jelas Nur.

Sementara itu, salah satu pemilik agen elpiji di Bulukumba, Wahyu yang dihubungi melalui telepon  membantah jika harga elpiji naik. Namun, ia tidak menapik jika beberapa hari ini, gas elpiji khususnya untuk 3 kilogram sempat menghilang di pasaran karena pasokan dari Pertamina ke sejumlah depot terlambat datang. Keterlambatan suplai itu disebabkan, kapal tengker yang membawa elpiji sulit bersandar di pelabuhan Makassar akibat cuaca buruk. Akibatnya, stok Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di Kabupaten Bantaeng menjadi kosong.

Selain cuaca buruk, penyebab kelangkaan elpiji itu juga akibat semakin banyaknya permintaan tabung gas elpiji 3 kilogram dibanding gas elpiji 12 kilogram. "Memang terkadang kami sulit mengontrol para pengecer yang menaikkan harga yang terlalu tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak," jelas Wahyu.

Wahyu menganjurkan kepada warga yang merasa keberatan dengan harga elpiji 3 kilogram ditawarkan oleh para pedagang pengencer tersebut, agar  membeli langsung ke pangkalan resmi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau